MENU
 
 
9 September, 2010
 
 
Untitled Document
   
 
 
Untitled Document
 
2.jpg
 
 
 
Untitled Document
 
Random HTML "Tak ada satupun di dunia yang bisa dicapai tanpa kemauan keras. Penguasaan setiap keahlian berasal dari kemauan kuat"...--by Wang Yang Ming--
 
 
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

:. ARTIKEL
 
PERMINTAAN PASAR DUNIA TERHADAP KOPI ARABIKA SPESIALTI DARI GAYO
28 February 2009 Jam 18:18

Memahami Pasar kopi Spesialti
Hal penting yang sangat mendasar bagi para petani, pedagang, eksportir dan para pelaku lokal lainnya agar berhasil dalam usaha agribisnis kopi Arabika Gayo adalah mengetahui sifat dasar permintaan (demand) pasar dunia terhadap produk mereka. Adalah sangat penting kepada para produsen diberi informasi tentang sifat-sifat yang sangat spesifik permintaan terhadap kopi Arabika dari Gayo. Adanya karakter citarasa yang khas pada kopi Arabika dari Gayo telah menunai ketenaran (reputation) internasional sebagai produk kopi spesialti (specialty coffee).

Perlu ditegaskan di sini bahwa pada produk-produk spesialti mutu yang prima akan sangat menentukan premium (tambahan) harga secara substansial di pasar dunia. Sifat dasar permintaan terhadap suatu jenis kopi sangat ditentukan oleh para pembeli yang secara teratur berbelanja di supermarket atau café di negara masing-masing, yang pada beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi perubahan secara nyata.

Pasar kopi spesialti saat ini sedang tumbuh cepat terutama di negara-negara kaya seperti Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa. Gejala ini juga mulai nampak di beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Brasil, Singapura, dan Cina (khususnya di Hongkong).

Hasil survey tentang kecenderungan minum kopi secara nasional di Amerika Serikat menunjukkan bahwa konsumsi minum kopi gourmet atau kopi spesialti orang dewasa meningkat sebanyak 3 % yaitu menjadi 17 % pada tahun 2008 dibanding dengan 14 % pada tahun 2007.

Akhir-akhir ini tuntutan pilihan para konsumen terhadap produk kopi yang akan mereka beli juga juga makin berkembang. Mereka tidak sekedar ingin memenuhi kebutuhan dan keinginan akan produk kopi yang citarasa baik saja, akan tetapi mereka juga sangat mengharapkan adanya jaminan bahwa kopi tersebut diproduksi melalui proses yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan.

Proses produksi kopi harus memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, para pekerja di sektor industri kopi harus mendapatkan upah yang layak, dan dan para petani di negara-negara produsen harus menerima pendapatan dan keuntungan yang layak (fair) agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Peluang Pasar
Terjadinya  permintaan pasar kopi dunia telah memberikan tekanan kepada para importir dan pedagang besar untuk segera memberikan tanggapan terhadap tuntutan citarasa dan tuntutan konsumen lainnya. Hal ini membuka peluang bagi para produsen di Negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia, khususnya di Gayo, untuk mengisi ceruk pasar (niche market) kopi spesialti yang menawarkan harga lebih mahal dibanding dengan kopi komersial biasa.

Agar berhasil dengan baik di segmen pasar spesialti maka para produsen kopi Arabika di Gayo harus mampu membuat standar baru dan lebih baik sesuai dengan persyaratan yang diminta oleh para importir dan pedagang besar di negara-negara konsumen di luar negeri.

Hal tersebut di atas bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena produksi kopi dari dataran tinggi Gayo telah mengalami tekanan yang sangat berat pada saat terjadi konflik militer awal tahun 2000-an. Banyak kebun kopi yang harus segera direhabilitasi. Teknik budidaya tanaman dan cara pengolahan pasca panen perlu diperbaiki agar dapat diproduksi kopi yang mutunya baik dan stabil.

Metode dan sistem pemasaran tradisional harus dirubah untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda. Rantai pasok (supply chain) yang menghubungkan langsung antara para petani dan para pembeli di luar negeri perlu diciptakan dan diperkuat untuk memberikan jaminan bahwa pembeli akan menerima produk yang memiliki mutu sesuai dengan yang dikehendaki serta petani menerima pembagian laba yang layak.
Untuk mencapai sukses tersebut maka perlu adanya kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan para pelaku industri kopi Gayo lainnya.

HARAPAN-HARAPAN KONSUMEN DI NEGARA-NEGARA IMPORTIR

Rantai Pasok (Supply Chain) Kopi Arabika Gayo
Berhubung pemasaran kopi Gayo dilakukan oleh sektor swasta, maka ada beberapa macam rantai pasok mulai dari petani sampai dengan siap ekspor. Ada sekitar 30 perusahaan yang melakukan ekspor kopi Gayo dari Pelabuhan Belawan (Medan). Ratusan pedagang terlibat dalam rantai pasok kopi Gayo, yaitu dengan cara membeli dari petani dan menjual ke pedagang yang lebih besar atau langsung ke perusahaan ekportir.

Exportir sering kali membeli langsung dari kelompok tani dengan membangun kemitraan, hal ini biasanya terjadi jika kopi yang diperjualbelikan bersertifikat (misal: organik, fairtrade, Utz Certified, dll.). Pola seperti ini sebenarnya ideal untuk petani dan eksportir karena dapat memperpendek rantai pasok dan memperbesar peluang bagi kedua belah pihak untuk memperoleh keuntungan yang maksimum.

Berhubung jumlah kopi yang dihasilkan dari Gayo sangat banyak (> 30.000 ton) dan lokasi produksinya tersebar pada areal yang luas, maka para eksportir masih banyak yang memanfaatkan pedagang perantara untuk mengumpulkan kopi dari berbagai penjuru di kawasan produksi. Namun demikian banyak pula pedagang perantara yang berkerja secara tidak terikat (independent), yaitu membeli kopi dari petani dan menjualnya kepada ekportir yang membeli dengan harga paling mahal.

Kopi biji berpindah dari petani di Gayo ke pelabuhan ekspor di Medan dengan berbagai cara, dan bukan dengan satu rantai pasok tertentu saja. Dalam hal ini salah satu hal penting yang harus diperhatikan oleh petani adalah bahwa dengan pola rantai pasok apapun yang digunakan dalam menjual kopinya, mereka perlu peduli terhadap rantai yang memungkinkan kopinya senantiasa dalam kondisi mutu yang tebaik. Hal ini akan memungkinkan petani untuk mendapatkan harga yang terbaik.

Petani dapat memperbaiki cara pemasaran dan harga kopinya dengan cara mengkaitkan diri dengan rantai pasok, sebagaimana model yang pernah disampaikan sebelumnya. Kondisi seperti ini akan memberikan peluang bagi petani untuk mendapatkan informasi-informasi seperti tentang pasar kopi, persyaratan sertifikasi, mutu kopi, dan informasi teknis.

Para petani sebaiknya tidak hanya melihat kepada pembeli yang memberi harga tertinggi, akan tetapi yang juga tidak kalah penting adalah melihat pembeli yang mau berbagi informasi dan transparansi sehingga para petani dapat meningkatkan pengetahuan tentang kopi dan menambah wawasan tentang berbagai hal yang dapat mempengaruhi pasar.

Para petani biasanya dapat memperoleh pelayanan, informasi, dan harga yang lebih baik jika mereka berkelompok. Para petani yang menjual kopinya secara lewat kelompok tani biasanya mendapatkan harga lebih baik dibanding menjual kopinya secara sendiri-sendiri. Dengan mendapatkan pengetahuan tentang pasar, harga, mutu dan masalah-masalah teknis para petani dapat memperoleh harga jual kopinya lebih baik.

Para konsumen sangat berharap dalam sistem perdagangan kopi Gayo antara petani dan pedagang saling tukar informasi, transparan dalam perdagangan, dan membangun komitmen dalam menjaga mutu.

Harapan terhadap Mutu Kopi Spesialti
Sebagian besar kopi Arabika dari Gayo dijual ke segmen pasar spesialti. Kopi spesialti merupakan kopi yang tidak memiliki cacat dan memberi citarasa yang unik dan khas. Kopi arabika dari Gayo memiliki citarasa dan penampilan yang unik sehingga membuatnya menjadi kopi spesialti. Keunikan ini terjadi dikarenakan adanya pengaruh iklim, tanah, varietas yang ditanam, dan cara pengolahan pasca panen, serta cara penanganan dari kebun petani sampai ekspor. Semua faktor tersebut berperan pada pembentukan citarasa kopi yang unik terhadap kopi yang berasal dari Gayo.

Para konsumen juga sangat mengharapkan mutu kopi spesialti yang dihasilkan dan diperdagangkan dari dataran tinggi Gayo stabil dari waktu ke waktu. Stabilitas mutu ini sangat penting agar para konsumen dapat menikmati kopi spesialti dari Gayo setiap saat dengan citarasa yang sama.

Selain dua hal tersebut para konsumen juga sangat mengharapkan adanya keberlanjutan pasok kopi arabika spesialti dari Gayo. Oleh karena itu pembangunan industri perkopian di Gayo juga perlu memperhatikan tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu:
a. secara ekonomi layak diusahakan,
b. secara sosial dapat diterima,
c. ramah terhadap lingkungan hidup.
(hugh/surip-sumber:BukuPanduanKopiArabikaGayo)



 
     
 
 
     
  :. Last Article  
 
Kemitraan Dalam Pemasaran Kopi Gayo
18:28, Sat, 28/02/2009 | by Hugh Evans |

PENGENDALIAN MUTU DAN SERTIFIKASI PRODUK
18:23, Sat, 28/02/2009 | by Anthony Marsh & Surip Mawardi |

PERMINTAAN PASAR DUNIA TERHADAP KOPI ARABIKA SPESIALTI DARI GAYO
18:18, Sat, 28/02/2009 | by Hugh Evans & Surip Mawardi |

Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah
15:01, Thu, 19/02/2009 | by Dr. Ir. Herry Darwanto, M.Sc |

Satu Hari dengan 60.000 Ide Brilian
14:44, Thu, 19/02/2009 | by |

Ekonomi Klaster
16:46, Thu, 27/11/2008 | by Sayed Mirza |

Memahami Konsep Modifikasi Supply Chain
16:41, Thu, 27/11/2008 | by Suhendra |

15:22, Thu, 27/11/2008 | by M.Madya Akbar |

1 2  Selanjutnya
 
     
     
   
     
     
 
Untitled Document
bulettine
 

 


TELAH TERSEDIA:

BUKU PANDUAN BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN
KOPI ARABIKA GAYO

 PENERBITAN BUKU PANDUAN INI
TERLAKSANA BERKAT KERJASAMA ANTARA:

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
Aceh Partnerships for Economic Development
BAPPEDA PROVINSI NAD
UNDP
Forum Kopi Aceh

Informasi lebih lanjut mengenai Buku Panduan ini, dapat menghubungi :
APED Office:  0651 - 21064

----------------------

 

 

 
bottom
 
 
Untitled Document
 
aceh tengah
PNM
 
 
 
 
Aped project menerima sumbangan artikel berupa hasil penelitian, laporan dan sebagainya yang berhubungan dengan pembangunan ekonomi lokal, ataupun tulisan lain yang berhubungan dengan pengembangan kopi, kakao, karet dan komoditi lainnya. Kirimkan tulisan Anda berserta dengan biodata penulis & foto diri ke email redaksi@aped-project.org
 
 
 
   
   
   
   
   
 
   
 
 
aped project@2007