MENU
 
 
9 September, 2010
 
 
Untitled Document
   
 
 
Untitled Document
 
8.jpg
 
 
 
Untitled Document
 
Random HTML “Your dreams can be realities. They are the stuff that leads us through life toward great happiness”..--by Deborah Norville--
 
 
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

:. ARTIKEL
 
Kemitraan Dalam Pemasaran Kopi Gayo
28 February 2009 Jam 18:28

Belajar dari Bantuan Konvensional
Permintaan pasar merupakan topik yang seringkali kurang mendapat perhatian atau hanya dilaksanakan ala kadarnya dalam konvensional pemerintah seperti melalui program-program penyuluhan dan bantuan kredit untuk produksi. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar petugas lapang penyuluhan sebatas memiliki keahlian teknis dalam bidang bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, dll.

Penyuluh pertanian jarang yang berlatar belakang seorang wirausahawan atau secara aktif pernah terlibat dalam kegiatan ekpor kopi secara langsung, sehingga selalu akan kesulitan dalam memperoleh informasi tentang kondisi pasar yang tepat dan dapat dipercaya.

Para petani bahkan pada posisi yang paling jelek, dengan akses informasi yang sangat sedikit atau tanpa sama sekali selain apa yang mereka peroleh dari para pedagang lokal, yang kemungkinan besar para pedagang tersebut juga tidak memiliki informasi yang baik.

Hasilnya, sebagian besar bantuan program pembangunan dari pemerintah kepada para petani kopi cenderung terfokus pada aspek pasok (supply) daripada aspek permintaan (demand). Lembaga-lembaga pemerintah biasanya memberikan bantuan benih/bibit, pupuk, peralatan, mesin dan masukan-masukan produksi lainnya. Selain itu seringkali juga diberikan bantuan berupa program pelatihan dan kadang-kadang dalam bentuk kredit.

Bantuan-bantuan tersebut sudah banyak dilakukan di berbagai tempat, akan tetapi bantuan program jarang sekali yang menyangkut informasi tentang permintaan konsumen atau metode pemasaran suatu produk.

Tanpa pemahaman yang baik tentang sifat dasar permintaan dan jalur pemasaran, maka program bantuan input untuk produksi akan tidak efektif atau pada kondisi paling jelek terjadi proses pembimbingan yang salah.

Tanggapan terhadap Pasar yang Digerakkan oleh Permintaan

Agar para produsen kopi Gayo mampu bersaing secara efektif di pasar dunia, maka program-program bantuan kepada para petani harus lebih memperhatikan pada aspek sifat dasar permintaan dan jalur pemasaran.

Sebuah proyek percontohan lengkap yang telah dilaksanakan oleh Forum Kopi Aceh akhir-akhir ini dengan dukungan dari APED. Proyek tersebut memberikan gambaran suatu rancangan untuk memperkuat rantai pasok kopi dengan pendekatan pasar yang digerakkan oleh permintaan (market driven). Hal ini dilaksanakan melaui kontrak dengan dua konsursium yang dipimpin oleh Swisscontact dan Winrock International, keduanya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang telah memiliki pengalaman cukup banyak tentang pembangunan pertanian di Indonesia.

Gagasan dasar proyek percontohan tersebut adalah membangun hubungan langsung antara para petani dengan para eksportir melalui koperasi-koperasi tani agar terlibat dalam pemasaran kopi. Pengaturan seperti ini akan menawarkan keuntungan-keuntungan potensial bagi semua pihak yang terlibat.

Nara sumber informasi pasar terbaik adalah para eksportir dan para pembeli di luar negeri, mereka senatiasa sigap dengan perubahan kondisi pasar dan kecenderungan pergerakan harga setiap hari agar tetap mampu bersaing. Mereka juga pada posisi terbaik untuk memberikan saran-saran kepada para petani terhadap produk apa yang mereka perlukan dan bagaimana cara mencapainya.

Hubungan langsung dengan para petani melaui lembaga koperasi akan memperpendek rantai pemasaran, dan akan lebih menjamin para importir dan para pabrikan kopi bahwa mereka akan memperoleh mutu kopi biji yang lebih baik sesuai dengan spesifikasi yang mereka harapkan. Koperasi akan memperoleh keuntungan dari harga produk yang lebih mahal, yang selanjutnya dapat dinikmati bersama oleh para anggotanya.

Untuk menerapkan model ini beberapa unsur perlu dipenuhi. Para petani perlu diatur dalam wadah kelompok tani, dan berhubungan langsung dengan pemasaran yang dilakukan oleh koperasi. Koperasi harus mampu mengorganisasikan pengumpulan hasil panen dari para anggotanya, melaksanakan pengolahan yang sesuai, dan mengelola transaksi keuangan baik dengan pembeli maupun dengan petani.

Dalam beberapa kasus, sebuah organisasi akan diperlukan untuk memperkuat kapasitas koperasi agar dapat berfungsi dengan baik sebagai titik penghubung pertama dalam rantai pasok. Organisasi ini dapat berupa lembaga pemerintah, LSM atau kontraktor yang memiliki keahlian yang sesuai. Peran eksportir juga diperlukan untuk mengidentifikasi pembeli di pasar luar negeri, baik importir maupun pabrikan, serta melakukan pengangkutan dan pengapalan.

Tergantung dari permintaan-permintaan importir, perlu juga mempersiapkan sertifikasi lembaga koperasi atau kelompok tani sesuai dengan standar lembaga-lembaga sertifikasi.
Pengaturan juga diperlukan agar pembayaran kepada para petani dapat dilakukan dengan segera agar petani tidak menunggu terlalu lama.

Kebanyakan koperasi tani dan beberapa ekportir kapasitas pembiayaannya terbatas, oleh karena itu diperlukan bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memberikan pinjaman jangka pendek sebagai modal kerja selama periode antara pembelian produk dari petani dan saat menerima pembayaran dari importir.

Unsur yang dibahas terakhir sepertinya tidak mudah, dan APED saat ini sedang berusaha untuk mencari cara pemecahan masalahnya.

Walaupun hasil akhir masih perlu ditunggu, beberapa indikasi awal menunjukkan bahwa proyek uji coba yang telah dilakukan dapat mencapai tujuan dalam hal mencontohkan cara-cara yang efektif untuk penguatan rantai pasok kopi. Percontohan ini juga penting dalam menunjukkan bahwa pengetahuan dasar yang benar tentang sifat dasar hubunngan antara pasok dan permintaan, nilai-nilai kemanusiaan, dan sumber-sumber pembiayaan yang diinvestasikan dalam program-program penguatan petani akan menjadi lebih efektif dalam mencapai tujuan-tujuan perbaikan mutu, peningkatan keluaran (output), dan peningkatan pendapatan rumah tangga petani.

APED berharap dapat memperbanyak model ini yaitu pada saat sumber-sumber daya lain telah tersedia. Sementara ini, Tim APED dapat menerima dengan baik untuk membangun kemitraan dengan pihak-pihak lain yang tertarik dalam penerapan model ini, khususnya dari lembaga-lembaga pemerintah, koperasi-koperasi tani, dan para pemangku kepentingan lainnya.
(hugh evans-sumber:BukuPanduanKopiArabikaGayo)




 
     
 
 
     
  :. Last Article  
 
Kemitraan Dalam Pemasaran Kopi Gayo
18:28, Sat, 28/02/2009 | by Hugh Evans |

PENGENDALIAN MUTU DAN SERTIFIKASI PRODUK
18:23, Sat, 28/02/2009 | by Anthony Marsh & Surip Mawardi |

PERMINTAAN PASAR DUNIA TERHADAP KOPI ARABIKA SPESIALTI DARI GAYO
18:18, Sat, 28/02/2009 | by Hugh Evans & Surip Mawardi |

Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah
15:01, Thu, 19/02/2009 | by Dr. Ir. Herry Darwanto, M.Sc |

Satu Hari dengan 60.000 Ide Brilian
14:44, Thu, 19/02/2009 | by |

Ekonomi Klaster
16:46, Thu, 27/11/2008 | by Sayed Mirza |

Memahami Konsep Modifikasi Supply Chain
16:41, Thu, 27/11/2008 | by Suhendra |

15:22, Thu, 27/11/2008 | by M.Madya Akbar |

1 2  Selanjutnya
 
     
     
   
     
     
 
Untitled Document
bulettine
 

 


TELAH TERSEDIA:

BUKU PANDUAN BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN
KOPI ARABIKA GAYO

 PENERBITAN BUKU PANDUAN INI
TERLAKSANA BERKAT KERJASAMA ANTARA:

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
Aceh Partnerships for Economic Development
BAPPEDA PROVINSI NAD
UNDP
Forum Kopi Aceh

Informasi lebih lanjut mengenai Buku Panduan ini, dapat menghubungi :
APED Office:  0651 - 21064

----------------------

 

 

 
bottom
 
 
Untitled Document
 
aceh tengah
PNM
 
 
 
 
Aped project menerima sumbangan artikel berupa hasil penelitian, laporan dan sebagainya yang berhubungan dengan pembangunan ekonomi lokal, ataupun tulisan lain yang berhubungan dengan pengembangan kopi, kakao, karet dan komoditi lainnya. Kirimkan tulisan Anda berserta dengan biodata penulis & foto diri ke email redaksi@aped-project.org
 
 
 
   
   
   
   
   
 
   
 
 
aped project@2007