MENU
 
 
9 September, 2010
 
 
 
 
Untitled Document
   
     
 
Untitled Document
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

:. NEWS
 
"Cocoa fever" in southwestern aceh
16 February 2010 Jam 15:12

Sejak 10 tahun terakhir, petani di sana mulai melirik tanaman cokelat. Tanaman satu ini ternyata memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga petani pun mulai beramai-ramai beralih ke cokelat. Malah ada petani di beberapa tempat dengan sengaja merubah fungsi lahan sawah menjadi areal tanaman cokelat.

Apalagi beberapa tahun terakhir perkembangan harga cokelat cukup menggembirakan sehingga cokelat menjadi kian populer. Harga biji cokelat kering yang ditampung pedagang pengumpul bertahan dikisaran antara Rp 21.000 sampai Rp 27.000 per kilogram.  Kalangan PNS juga ikut-ikutan mengembangkan tanaman ini dengan memanfaatkan lahan garapan yang tersedia, terutama di Kecamatan Babahrot dan Kuala Batee. Abdya kini bagai ‘demam’ cokelat.  Sebagian besar masyarakatnya rata-rata memiliki kebun cokelat seluas 0,5 sampai 1 hektera per kepala keluarga/KK. Menurut data yang diperoleh Serambi, dari seluruh petani Abdya rata-rata terkumpul sebanyak 20 ton cokelat per hari.

Bantuan bibit
Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan sepertinya cukup sigap menangkap peluang dibalik popularitas tanaman cokelat ini, yakni dengan membagikan bibit unggul gratis kepada masyarakat petani.  Tahun 2007 hingga 2009 jumlah bibit yang disalurkan tercatat mencapai 1,6 juta batang atau setara 2.500 hektar. Bibit disalurkan di seluruh kecamatan mulai dari Babahrot hingga Lembah Sabil. Diperkirakan luas total tanaman cokelat tidak kurang 6.000 hektare, dan sekitar 50 persennya sudah berproduksi.

Disamping pengembangan kelapa sawit, cokelat juga telah menjadi bagian vital dari program pengentasan kemiskinan di Abdya. Tingkat kesejahteraan sebagian masyarakat Abdya mulai ditentukan oleh komoditas satu ini. Namun demikian, harga tetap menjadi penentu utama. Harga cenderung fluktuatif, sebab sangat tergantung pada perkembangan harga komoditas di pasaran Medan, Sumatera Utara. Mahmud, petani Desa Muka Blangpidie, Kecamatan Kuala Batee, mengatakan, harga cenderung menurun selama sepekan terakhir.

Dari biasanya per kilo berkisar antara Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram, turun menjadi antara Rp 21.000 sampai Rp 23.000 per kilo. Alasannya, kata dia, kualiatas biji cokelat berkurang selama musim trek sekarang. Persoalan lain yang dihadapi petani cokelat, menurut Mahmud  adalah serangan hama buah yang semakin tinggi. Seperti tupai serta serangan hama penggerek. Hama penggerek ini menyebabkan buah cokelat membusuk sebelum dipanen. Selain itu juga mengurangi kualitas biji cokelat. Persoalan hama ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah ditengah upaya menggenjot sektor perkebunan di Abdya, apalagi di tengah suasana ‘dema’ cokelat seperti saat ini.(Serambi/16/02/10-zainun)



 
     
 
 
     
  :. All News  
 
25 June 2010 Jam 17:04 | by sbarry |

25 June 2010 Jam 16:39 | by min-sbarry |

25 June 2010 Jam 15:53 | by min |

26 April 2010 Jam 14:03 | by min |

25 March 2010 Jam 13:45 | by min |

23 March 2010 Jam 13:06 | by aya |

23 March 2010 Jam 13:02 | by |

Fill Aceh Patchouli 80% of National Production
03 March 2010 Jam 07:30 | by c46 |

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10  next
 
     
     
   
     
     
Untitled Document
bulettine
 

 


TELAH TERSEDIA:

BUKU PANDUAN BUDIDAYA DAN PENGOLAHAN
KOPI ARABIKA GAYO

 PENERBITAN BUKU PANDUAN INI
TERLAKSANA BERKAT KERJASAMA ANTARA:

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
Aceh Partnerships for Economic Development
BAPPEDA PROVINSI NAD
UNDP
Forum Kopi Aceh

Informasi lebih lanjut mengenai Buku Panduan ini, dapat menghubungi :
APED Office:  0651 - 21064

----------------------

 

 

 
bottom
 
 
Untitled Document
 
aceh tengah
PNM
 
 
 
 
 
   
   
   
   
   
 
   
 
 
aped project@2007